monochrome..
08/17/2009
“…..” Gw g tau harus bilang apa. Gw g balas smsnya. Seperti berada di batas rasa dan kecewa Antara malu, Dan kecewa. Malu, karna gw bener-bener ‘ditampar’ dengan kenyataan. Gw terlalu banyak berharap. Kecewa, lagi-lagi. ***
Gw g tau yang gw lakukan ini bener ato g. Hei, tapi ini kan hari ulang tahun. Gw boleh minta apapun kan, termasuk bertanya apapun ke dy. ***
Ulang tahun yang, hupfhhh…. ………………………
Terserah lo deh..
si bungsu dan si tengah
06/11/2009
Ini cerita tentang si bungsu dan si tengah. Tentang dua pribadi yang berbeda. Semua mengakuinya, jikalau terdapat banyak sekali perbedaan antara keduanya, ntah itu dari segi intelegensia, ntah itu dari sisi kepribadian, ntah itu dari kebiasaan.
Si tengah memang juara dari semuanya. Dia dianugerahi hal-hal yang tidak dimiliki si bungsu,, seperti mengambil semua yang bagus dan meninggalkan sisanya untuk si bungsu. Lucu sekali, melihat betapa seringnya mereka bertengkar untuk hal-hal yang sepele,, hal-hal yang satu atau keduanya enggan sekali mencoba untuk berkompromi. Dan pada akhirnya selalu menjadi besar untuk anggota rumah lainnya, padahal hanya diawali dari sesuatu yang remeh.
Si tengah, mungkin sudah bosan melihat kelakuan si bungsu yang seenak udelnya itu. Betapa dia harus ikut menanggung akibat yang ditimbulkan dari segala bentuk kenakalan dan kesembronoan si bungsu.. Betapa bosannya dia untuk selalu menjadi pengalah,, terus dan terus mengalah. Hingga akhirnya dia memilih untuk diam. Mungkin benar kata pepatah, diam itu emas. Mengalah bukan berarti suatu kekalahan. Karena si tengah sudah membuktikan.. Dia memang juaranya..
Si bungsu, mungkin dia sudah bosan untuk mencari perhatian dari si tengah. Betapa dia menginginkan hal-hal remeh layaknya seorang adik. Bukan hanya perasaan sayang yang cuma disimpan dalam hati. Dia mungkin nakal, dia mungkin biang kerok,, dia mungkin seperti satu bentuk kesialan nyata bagi yang lainnya. Tapi dia sedang mencoba, bermetamorfosa dengan caranya, mencari satu bentuk penyesuaian untuk berjalan beriringan dengan si tengah dan si sulung yang superior. Betapa sulitnya menjadi manusia garis belakang, yang harus puas dengan kata cukup.
Si bungsu dan si tengah, selalu melihat dunia dari sudut yang berbeda. Mungkin karena yang satu lebih mengagung-agungkan nalar, sedangkan yang lain terdominasi oleh perasaan. Tapi anehnya, mereka yang seperti anjing dan kucing itu ditakdirkan sejalan. Tanpa disadari,, bidang yang sama, ketekunan yang sama, almamater yang sama. Mereka seperti terkungkung dalam satu lorong. Walau memilih jalan berbeda, tapi persimpangan itu selalu mempertemukan mereka, lagi dan lagi. Seperti ada satu skenario untuk mendamaikan mereka yang sama-sama kepala batu itu.
Lalu, pernahkah si tengah dan si bungsu menempati posisi masing-masing tanpa saling meracau?? Tanyakan saja pada si sulung bagaimana ia bisa membuat keduanya jinak seperti anak kucing..
Ever…
03/25/2009
Hari ini hujan turun, untuk kesekian kalinya. Satu rutinitasnya dikala hujan,, berlama-lama memandang jauh rinai hujan yang turun,, hanya diam, sambil mendengarkan suara yang tak sengaja tercipta.. Dia memang sedikit melankolis akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, hujan selalu memutar ingatan lamanya tentang air mata, kesedihan, kosong.. Dia cuma punya 3 kosa kata itu untuk mendeskripsikan hujan. Yang pasti kesemuanya bukan melulu tentang hidupnya, pars pro toto lebih tepat..
Air mata,, mungkin hal pertama yang semua orang coba hindari, tapi di saat waktu mengharuskannya ada,, ia pasti ada, menggelontor bak hujan turun tanpa diminta. Justru disitu sisi manusiawi seseorang dimulai, bahkan untuk ukuran manusia dengan cap robot sekalipun, yang punya berlapis-lapis tembok ketegaran. Andai dia seperti itu..
Hujan.. memang waktu yang tepat untuk menghapus semuanya.. semua yang bermakna kesedihan.. Dia pernah ada di sana,, sendiri, hanya dengan hujan dan air mata,, Dan semua yang ingin dihapus jejaknya… berharap ketiganya melebur sempurna, lalu menguap.. Dan dia tak perlu menanti awal tahun untuk membuat rencana eradikasi besar-besaran, untuk kurun waktu setahun kedepan,,,
Memang berhasil,, Dia tak lagi terseok-seok dengan beban berkarung-karung penyesalan di hatinya,, Berusaha menoleh ke depan untuk sesuatu yang baru.. Sesuatu yang akan dihadiahkan untuk satu kesabaran, walau ntah kapan datangnya..
Sebab dia tak mau lagi bermimpi.. Memilih untuk tidak dipilih.. Toh dia sudah memutuskan, Berjalan dengan dua kaki dan sepasang sayap harapan yang baru saja tumbuh sempurna,, Melewati satu lorong putih dan hitam dan kelabu,, seraya menunggu bingkisan indahnya tiba. Bukankah dia sudah terbiasa seperti itu??!!
Yang pasti, hujan sudah membawa semuanya pergi,, Pergi, mengalir, ke muara alaminya,, tempat dimana seharusnya ia berada..
(Some people come into our lives and quickly go. Some stay for a while, leave footprints on our hearts, and we are never, ever the same..)